Peniti Emas untuk YIM

PENYERAHAN PENITI EMAS BULAN BINTANG DARI Hj. IDA NATSIR KEPADA KETUA UMUM DPP PARTAI BULAN BINTANG, YUSRIL IHZA MAHENDRA
 
“Kami Keluarga Besar Natsir menganggap Yusril Ihza Mahendra layak memegang PENITI EMAS, yang berada di tangan Bapak sejak tahun 1955. Benda ini memang bukan keramat atau bagaimana, tapi hanyalah pemberian pengurus MASYUMI Muara Aman, Bengkulu, ketika Bapak (Mohamad Natsir) berkampanye dulu. Sejak itu PENITI dari EMAS murni tersebut, senantiasa dibawa Bapak dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan Bapak. Setelah MASYUMI dibubarkan, benda ini disimpan Bapak sampai akhir hayatnya.”
 
“Setelah Bapak meninggal, PENITI EMAS itu memang saya yang mengurusnya. Namun benda tersebut, bukanlah milik pribadi atau keluarga. PENITI EMAS itu milik Keluarga Besar BULAN BINTANG dan harus diserahkan kepada pelanjut perjuangan MASYUMI.”
 
“Setelah melalui serangkaian diskusi dan pertimbangan, kebetulan kami anggota keluarga membagi-bagi peninggalan kedua orang tua kami. Saya sendiri ternyata dibuat kaget setelah tahu saya mendapat PENITI EMAS. Karena itu punya warga BULAN BINTANG, saya bermaksud mengembalikannya suatu saat dan akhirnya terealisir ketika Mukernas I PARTAI BULAN BINTANG pada tanggal 25 – 28 Februari 1999 di Padepokan Pencak Silat TMII Jakarta. Sekalipun yang menerimanya Yusril Ihza Mahendra, namun itu dimaksudkan untuk semua warga PARTAI BULAN BINTANG.”
 
Itulah sekilas riwayat PENITI EMAS, simbol perjuangan MASYUMI yang selama ini tersimpan dan diungkapkan kembali oleh Ida M. Natsir. Kemudian PENITI EMAS itu dengan tidak ragu-ragu diserahkan oleh Ida M. Natsir kepada Yusril Ihza Mahendra yang kini menjabat Ketua Umum PARTAI BULAN BINTANG.
 
Yusril sendiri tidak menduga ia menerima PENITI EMAS yang bersejarah itu di depan peserta Mukernas. Tentu peristiwa ini merupakan hari bersejarah dalam hidupnya, khususnya dalam lingkungan Keluarga Besar BULAN BINTANG. Betapa tidak, PENITI EMAS sebagai simbol perjuangan dan kelanjutan perjuangan Partai MASYUMI kini disematkan ke dadanya, oleh ummat Islam. Tentu kejadian ini tidak semua orang mengalaminya. Hanya Yusril seorang yang mengalami proses historis yang amat bermakna dalam sejarah gerakan politik Islam di Indonesia.
 
Penyerahan dan penerimaan PENITI EMAS sudah tentu tidak sekedar simbolik sifatnya. Karena PENITI EMAS milik M. Natsir tokoh teras MASYUMI yang terkemuka, telah dicitrakan oleh Keluarga Besar BULAN BINTANG sebagai simbol perjuangan politik Islam, dalam hal ini MASYUMI, yang kini diteruskan oleh PARTAI BULAN BINTANG.
 
Karena itu, ketika Yusril Ihza Mahendra menerima PENITI EMAS secara langsung dari Ida M. Natsir, salah seorang puteri M. Natsir, suka tidak suka, orang menilainya sebagai peristiwa yang penuh makna. Dengan diterimanya PENITI EMAS itu berarti Yusril tengah memasuki ruang-ruang publik dalam pergulatan sejarah Islam di tanah air, dengan cara meneruskan cita-cita besar ummat Islam yang pernah diperjuangkan oleh MASYUMI selama 15 tahun sejak awal kemerdekaan Republik ini.
 
Sebagai Ketua Umum PBB, Yusril tengah diberikan amanah secara langsung oleh ummat Islam guna memperjuangkan cita-cita ummat Islam itu melalui PBB di masa kini dan masa mendatang. PENITI EMAS yang kini di tangan Yusril, bagaikan peneguh hati baginya untuk terus tidak menyerah menyuarakan aspirasi politik Islam di tengah-tengah percaturan aspirasi yang beragam yang dibawakan oleh puluhan partai politik yang kini berkembang di tanah air.
 
Dengan kata lain, PENITI EMAS itu bukanlah merupakan bentuk kelemahan yang bisa dinikmati siapa saja. Sebaliknya, PENITI EMAS itu merupakan simbol yang nyata betapa kepemimpinan Yusril Ihza Mahendra dan Keluarga Besar BULAN BINTANG yang dipimpinnya memasuki era baru, namun tetap berakar pada tradisi besar cita-cita dan moral politik yang tinggi yang pernah dimiliki dan diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Islam di masa lalu. Dari titik inilah, Yusril, setelah menerima PENITI EMAS yang amat simbolik itu kian diuji kemampuannya untuk menunaikan tugas sejarah yang tidak kecil.
 
Ida M. Natsir sendiri menyambut baik kepemimpinan Yusril yang secara langsung dipercaya oleh kalangan tokoh tua MASYUMI, yang memang sangat suka dengan Yusril. “Karena itu, kami sendiri tidak kaget mendengar ketika Yusril ditunjuk memimpin PBB. Ketokohannya dan kemampuannya merangkul berbagai kalangan sesuai dengan misi dan visi PBB. Insya Allah mampu dia emban,” tambah Ida M. Natsir.
 
Sebagai Ketua Umum PBB, Yusril Ihza Mahendra punya potensi terbesar. Apalagi, dia termasuk salah satu pendiri partai yang mencoba untuk “mewarisi” kharisma MASYUMI ‘tempo doeloe’. Bahkan PENITI EMAS yang menjadi lambang pewaris tampuk kepemimpinan MASYUMI sudah ditangannya. Semoga Yusril dan Keluarga Besar PARTAI BULAN BINTANG dapat menunaikan tugas kesejarahannya dengan baik.
 
(Tulisan ini diambil dari buku yang berjudul “YUSRIL IHZA MAHENDRA, SANG BINTANG CEMERLANG – Perjuangan Menegakkan Sistem dan Akhlaq Berpolitik”. Penulis : Yudi Pramuko)
 
(Di edit kembali oleh Fadlullah Rusyad, ST., Ketua DPC Partai Bulan Bintang Kota Bandung / Anggota Tim Kebijakan Wali Kota Bandung)

Posting Komentar

0 Komentar