Fenomena pamer kekuatan negara kembali mengemuka di panggung internasional dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai negara, baik besar maupun kecil, menunjukkan kecenderungan menampilkan simbol kekuasaan, stabilitas, dan kemampuan mereka ke ruang publik global.
Amerika Serikat menjadi contoh paling mencolok ketika Presiden Donald Trump secara terbuka melontarkan gagasan mengambil alih Greenland. Pernyataan itu bukan semata kebijakan realistis, melainkan sinyal kekuatan dan dominasi geopolitik yang ditujukan ke lawan maupun sekutu.
Bagi Washington, wacana semacam itu berfungsi sebagai pesan bahwa AS masih merasa berhak menentukan arah wilayah strategis dunia. Substansinya mungkin diperdebatkan, tetapi efek komunikasinya sangat kuat.
Di sisi lain, negara-negara berkembang juga melakukan pola serupa dalam bentuk berbeda. Somalia, misalnya, kerap menonjolkan kunjungan kerja presiden, pelantikan pejabat tinggi, dan seremoni kenegaraan sebagai bukti bahwa negara itu masih berfungsi.
Bagi publik internasional, hal tersebut tampak biasa saja. Namun bagi Somalia, yang lama dicap sebagai negara gagal, pameran simbol negara adalah upaya mematahkan stigma dan mengirim pesan stabilitas.
Apa yang dianggap rutinitas di negara mapan, justru menjadi peristiwa strategis di negara yang baru bangkit dari konflik. Di sinilah pamer negara berfungsi sebagai alat rehabilitasi citra.
Tiongkok memainkan strategi berbeda dengan menonjolkan kemajuan teknologi dan kekuatan militernya. Peluncuran kapal induk, pameran drone, hingga pencapaian luar angkasa disiarkan luas sebagai bukti kebangkitan nasional.
Bagi Beijing, pamer teknologi bukan sekadar kebanggaan domestik, melainkan alat diplomasi keras untuk menunjukkan bahwa mereka telah menyamai atau melampaui kekuatan Barat.
Di kawasan Timur Tengah, Yaman juga menunjukkan gejala serupa meski dalam kondisi perang dan krisis. Pemerintah dan kelompok bersenjata sama-sama menampilkan parade militer, latihan pasukan, dan pertemuan dengan delegasi asing.
Dalam konteks Yaman, pamer tentara bukan sekadar unjuk kekuatan, tetapi klaim legitimasi. Siapa yang mampu menampilkan simbol negara, dialah yang mengklaim sebagai representasi sah.
Kelompok Houthi bahkan melangkah lebih jauh dengan memamerkan drone, rudal, dan kemampuan serangan jarak jauh. Aksi ini dirancang untuk menunjukkan bahwa mereka bukan aktor lokal biasa, melainkan kekuatan regional yang harus diperhitungkan.
Pamer semacam ini sering disalahartikan sebagai kesombongan semata. Padahal, dalam politik internasional, simbol memiliki bobot hampir setara dengan kekuatan nyata.
Negara atau aktor yang gagal memamerkan eksistensinya berisiko dianggap lemah, tidak stabil, atau tidak relevan. Karena itu, pamer kekuasaan menjadi kebutuhan komunikasi politik.
Dalam era media sosial dan perang informasi, pamer negara juga ditujukan langsung ke publik global. Video, foto, dan pernyataan keras menjadi senjata untuk membentuk persepsi.
Banyak negara sadar bahwa persepsi sering kali lebih menentukan daripada fakta di lapangan. Negara yang terlihat kuat akan diperlakukan sebagai kuat, meski kapasitas riilnya terbatas.
Sebaliknya, negara yang tidak menampilkan simbol negara berisiko kehilangan daya tawar. Inilah alasan mengapa pelantikan presiden, kunjungan luar negeri, atau parade militer diproduksi secara visual.
Fenomena ini juga menunjukkan pergeseran diplomasi dari meja perundingan ke panggung publik. Pesan tidak lagi hanya dikirim ke pemerintah lain, tetapi ke masyarakat dunia.
Dalam konteks itu, pamer negara bukanlah anomali, melainkan bagian dari bahasa politik global. Setiap aktor berbicara dengan simbol yang dipahami lawan dan kawan.
Namun, pamer yang berlebihan juga membawa risiko. Jika simbol tidak didukung kapasitas nyata, negara bisa kehilangan kredibilitas saat diuji krisis.
Karena itu, pamer negara sejatinya adalah seni menyeimbangkan citra dan realitas. Terlalu sedikit terlihat lemah, terlalu banyak bisa terbaca sebagai gertakan.
Di tengah dunia yang makin kompetitif dan penuh ketidakpastian, demonstrasi negara tampaknya akan terus menjadi alat utama. Bukan hanya soal kekuatan, tetapi soal siapa yang mampu terlihat sebagai negara yang masih berdiri dan diperhitungkan.
































0 Komentar